Aku, Kamu, dan Kita semua sama. Sama-sama mengiyakan kalau ramadhan tahun ini berbeda. Klise sekali, tapi inilah kenyataannya. Banyak insan yang mengaku bersedih bahwa ramdhan tahun ini tak se-ekspresif tahun-tahun sebelumnya. Katanya, mereka terbelenggu diam di rumah saja, padahal inilah momentum untuk lebih dekat dengan pencipta. Keadaan yang memaksa untuk tak beranjak dan mengharuskan berjarak.
Dulu, sesaat ketika akan menyambut ramadhan datang, ramai sekali remaja-remaja berbondong menuju masjid dengan kopiah setengah menutup rambut, masih memakai celana pendek dan memutarkan sarungnya seperti para koboi berkuda, Haha. Antusias yang menggebu, berlari dari rumah masing-masing menuju titik kumpul keberangkatan menuju masjid. Namun sayangnya, belum bisa ku temukan di ramadhan 2020. Banyak pemuda yang tersekat dengan imbauan pemerintah dan alim ulama untuk beribadah di rumah saja, mereka menaati. Sami'na wa atho'na. Kami dengar dan kami patuh, kata mereka. Baguslah, setidaknya mereka sadar bahwa kebaikan umat lebih utama daripada euforia belaka.
Banyak harapan yang tak pernah putus diiringi tindakan yang serius. Banyak pula yang menghibur diri, katanya tenang saja, badai pasti berlalu. Pilu akan menghilang dan rindu akan kembali bertemu. Tiga bulan sudah pandemi mengekang, menjadikan ekonomi tak seimbang. Para pedangang tak beranjak dari tempat, terpaksa katanya. Kalau tidak, keluarga di rumah tak akan menyuap sesendok nasi dan air putih. Itulah karenanya, yang sama hanya suasana teriakan para pedagang sore hari di ramadhan tahun ini.
Sepanjang jalan dipadati para penjual, namun pembeli tak kalah jumlahnya. Berdesakan. Klakson kendaraan saling bersahutan, knalpot saling menghambur suara. Jreng jreng, knalpot melengking tak lebih bagus dari pada suara toa murah di pasaran. Mengganggu sekali.
Es buah, gorengan, pempek dan serba-serbi makanan yang menjadi warna tersendiri di bulan ramadhan. Makanan-makanan itu masih setia menghiasi ramainya ramdhan. Masih menjadi lawan ketika menahan dahaga ditengah teriknya matahari. Menarik sekali!
Namun sejatinya ramadhan tak sekedar menahan lapar dan berburu takjil. Lebih dari itu. Ramadhan adalah momen untuk beribadah lebih giat dari pada biasanya. Tadarus alquran, solat 5 waktu dan memperkuat sunnah yang sebelumnya masih jarang dilakukan. Semoga di tengah situasi sulit seperti ini, nilai-nilai taqwa tak luntur pada setiap insan di muka bumi ini.
Semangat dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 H ya, semuanya!
semoga berkah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar