Ketika tangan tak mampu menjabat,
kaki yang tak sanggup lagi melangkah,
hanya hati yang dapat berbisik.
Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal aidin walfaidzin
mohon maaf lahir batin.
Selamat hari raya idul fitri ...
-------------------------------
Imron dan Keluarga.
-------------------------------------------------------------------
Ada yang sudah terima pesan berantai di atas? Kalau belum, tunggu ya, antri! Pesan berantai warisan budaya ini pasti meramaikan Whatsapp kita masing-masing ketika momen lebaran akan tiba. H-1 atau H-2 lebaran biasanya sudah mulai tersebar. Tak masalah, yang menerima pesan tinggal membalas, ditambah sedikit basa-basi dan beberapa emoticon agar terlihat lebih ekspresif. Hehe.
Ramadan akan pergi. 30 hari hampir berlalu. Lantas, layakkah kita menilai diri kita lebih baik dari sebelumnya? Hanya diri kita yang mampu menilai kualitas ibadah yang kita lakukan sebulan penuh selama ramadan. Ada yang menghabiskan dengan penuh khidmad bertadarus, khataman quran sekali, dua kali bahkan sepuluh kali, mungkin saja. Ada juga yang lebih memilih bersantai namun sholat wajib tetap dijalankan. Di belahan dunia lain mungkin ada yang menghabiskan beberapa bacaan buku, entah itu panduan sholat, tata cara wudhu, buku-buku islami lainnya atau bahkan novel-novel yang berisikan kata-kata puitis. Tipe manusia lain juga ada yang memilih untuk menyelesaikan video video kajian online dengan dipandu ustad-ustad besar yang sudah terkenal di negeri ini. Terserah saja, setiap insan berhak memilih untuk melakukan hal baik yang diyakini.
Beruntungnya, yang saya lihat begitu banyak kebaikan yang dilakukan penduduk negeri di momen ramadan ini. Kepekaan terhadap sekitar seakan meningkat tajam, lebih bisa merasa tepatnya. Berbagi kebaikan, menebar senyuman. Berbagi nasi kotak, takjil untuk berbuka, dan bahkan sembako untuk stok sehari-hari rumah tangga. Alhamdulillah luar biasa. Semoga ramadan kali ini kita benar-benar berhasil menjadi hamba Allah yang bertaqwa seutuhnya, Aamiin.
Besok malam, gema takbir akan berkumandang seantero negeri. Menandakan kemenangan umat muslim di seluruh dunia. Akan terdengar seruan kebahagiaan untuk menyambut idul fitri. Lebaran memang momen yang paling ditunggu setelah sebulan penuh menjalankan puasa ramadan. Setelah berjuang di tengah gurun yang kering, terlihat ujung garis finish disambut dengan danau yang menyegarkan. Begitulah kiranya perjalanan umat muslim di dunia. Rumah-rumah akan kembali hidup, menyiapkan semua bentuk perayaan kemenangan. Ikut berbahagia dengan euforia yang ada. Membersihkan rumah, menyapu, mengepel, memotong rumput dan dedaunan di halaman rumah, bahkan mungkin saja ada yang mengecat ulang warna rumah. Haha.
Membeli makanan, membuat bolu, memasak lauk pauk daging dan lain-lain untuk disantap setelah sholat idul fitri. Nah salah satu euforia yang paling mengesankan adalah sholat idul fitri. Berbondong-bondong dari rumah menuju masjid bersama keluarga dan tentunya para tentangga terdekat. Ada yang mengenakan baju baru, ada juga yang cukup menggunakan pakaian lama yang masih bagus dan layak pakai. Kata orang, baju baru alhamdulillah, tak punya pun tak masalah. Karena esensinya idul fitri adalah kembali suci, artinya hati yang baru pun sudah cukup.
(Sumber: google.com)
Idul fitri tahun ini tampaknya akan berbeda. Di tengah kondisi pandemi yang belum juga selesai, pemerintah selalu mengawasi dan mengambil langkah tegas terhadap setiap kegiatan. Khususnya pelaksanaan sholat idul fitri, yang menjadi sorotan utama para penguasa. Sholat idul fitri tahun ini dianjurkan di rumah saja, dengan panduan dan tata cara yang sudah beredar di media sosial. Karena ditakutkan akan meningkatkan jumlah kasus covid jika harus berkumpul di keramaian. Tapi entahlah, mungkin sebagian masjid akan menerapkan dan mematuhi atau sebagian lagi tetap menjalankan seperti biasa sebelumnya.
Sudah menjadi ciri khas lebaran jika harus saling silaturahim dari rumah ke rumah. Berjabat tangan dan berpelukan hingga mencicipi makanan yang dihidangkan di setiap rumah. Lagi-lagi, kebiasaan ini terancam dan tersekat imbauan pemerintah. Idul fitri mungkin akan sepi tanpa hal semacam ini. Jika dirasa aman-aman saja, sepertinya kebiasaan ini akan tetap berjalan, setidaknya dengan tertangga terdekat saja.
Pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana diri kita bersikap setelah perjalanan panjang yang kita tempuh. Diri ini selalu berharap agar apa yang diupayakan bisa benar-benar menjadi kebahagiaan dan kenyataan. Dengan datangnya idul fitri, semoga kita selalu sadar bahwa kemenangan pasti akan kita raih. Semoga di hari yang suci nanti, jiwa raga dan ruhiyah kita semakin membaik dan juga semakin suci terhapus dari dosa-dosa yang membelenggu, aamiin. Semoga tak hilang nikmatnya hari raya di tengah kondisi yang hampir membuat kita tak berdaya. Semoga tak luntur semangat kita untuk selalu berbuat baik setelah bekal yang kita dapat di bulan ramadan, aamiin.
Akhirnya, saya mengucapkan..
Taqabbalallahu minna wa minkum
Minal aidin walfaidzin
Mohon maaf lahir batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H
Selamat berbahagia, nikmatilah setiap detik senyum dan tawa di tengah hangatnya pelukan keluarga.
Selamat bersenang-senang.
Hakimrasyidi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar