Kamis, 14 Mei 2020

2020, Covid, dan Mahasiswa.

Baru lima bulan berjalan, 2020 bahkan menyaingi pelangi, warna-warni. Januari hingga Mei sungguh berliku bagi seluruh penduduk dunia. Banyak kesedihan yang menyinggung emosional tiap insan. Banyak air mata yang terpaksa harus diusap, dengan tangan sendiri atau orang yang dikasihi. Yang semestinya dapat tertawa lebar menjadi bungkam bibir melengkung. Hati yang seharusnya tersenyum, terpaksa sadar dihadapkan kenyataan yang tidak baik-baik saja.

Indonesia tak dapat mengelak, berkah tuhan di awal tahun harus diterima lapang dada. Hujan yang datang menyapa memberi pelajaran pada ibu kota. Genangan air yang menyebar hampir sebagian Jakarta membuat kalut metropolitan. Kacau, terancam, dan terendam. Tiga kata yang menggambarkan wajah Indonesia saat itu. Wajar saya sebut Indonesia, karena Jakarta mewakili perasaan semua raga. 

Waktu berlalu, hari berganti, dan hidup harus dinikmati. Kekacauan Jakarta perlahan dibenahi hingga Januari pun berlalu. Februari hadir dengan rasa yang berbeda. Bagaimana tidak, hal yang tak disangka justru menggemparkan dunia. Virus mematikan yang ditemukan pada akhir tahun 2019 semakin memuncak eksistensinya. COVID-19 yang resmi ditemukan di Wuhan, China berganti status semakin meresahkan. Bukan lagi wabah tapi pandemi, yang berarti ini adalah darurat Internasional. COVID-19 telah menikam ribuan nyawa manusia. Virus yang tak bisa dianggap sepele dan tak mungkin diabaikan. 

Maret 2020, Indonesia resmi masuk dalam daftar negara yang terkonfirmasi COVID-19. Pasien positif pertama ditemukan di Jakarta dan langsung mendapat penangan serius. Tameng yang dibangun sedari awal berhasil ditembus oleh virus yang tak terlihat. Tenaga medis cepat tanggap, pemerintah pun terlihat sigap. Satu orang confirmed, dua orang bertambah, hinggah akhirnya, sampai saat ini, virus ini telah bersarang pada 14 ribu lebih manusia di Indonesia. Kondisi Indonesia kembali kelam, tak sedikit tenaga medis gugur saat tugas. Persediaan APD yang tak mencukupi membuat Indonesia memutar otak, mau tidak mau APD harus dipenuhi. 

Pemerintah secara gamblang dan  tegas memutuskan Lockdown. Social distancing harus diterapkan. Sebagai langkah pendukung kebijakan, aktifitas harus dari rumah. Termasuk mahasiswa, karyawan perusahaan dan pekerjaan semacamnya. Work From Home, istilahnya. Banyak sekali komentar-komentar mengenai ini. Apalagi mahasiswa, yang mengeluh tentang bagaimana adaptasi dengan sistem kuliah online atau Daring. Yang bersuara memberontak karena tugas yang dibebankan tak lagi dapat diterima akal sehat. Kuliah online bukannya menerima asupan materi malah beban moril yang didapat, stres katanya. 

Tulisan ini saya buat sebagai rekanan mahasiswa. Jadi, akan sedikit banyak membahas lika-liku perjalanan teman-teman yang bersuara merasakan dampak dari pandemi COVID-19. Mahasiswa perantau yang mengeluh kesulitan mencari bahan makanan karena warung-warung sudah mulai tutup dan persediaan toko pun mulai habis. Tak hanya itu, masalah kompleks lainnya yang sering dikeluhkan adalah tentang kuota internet dan sinyal yang tak memadai. Sehingga sangat sulit saat melakukan pembelajaran online. Namun beruntungnya, beberapa kampus sudah mendukung fasilitas mahasiswa dengan menyediakan kuota gratis setiap bulannya. Nah ini adalah secercah cahaya di tengah kegelepan. Syukur syukur..

PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar sungguh tak menyenangkan bagi perantau. Mereka yang tak sempat pulang sebelum diputuskannya kebijakan ini harus bersedih menahan diri. PSBB artinya tak boleh keluar dari tempat itu dan tak boleh masuk ke daerah itu. Tak sedikit kawan-kawan mahasiswa yang terpaksa berdiam diri di rumah kos nya tercinta terpisah dari orang tua dan dari keluarga. Karena kalau pulang, dikhawatirkan membawa virus yang berbahaya. Semakin dekat dengan Idul Fitri, semakin diri merundung sedih. Apalagi untuk teman-teman yang baru pertama kali merasakan jauh dari orang tua. Berat sekali rasanya. Ramadan sendirian, buka sahur ditemani alarm. Bahkan terancam lebaran menyapa keluarga melalui Video Call, virtual. Lagi-lagi online. 

Teringat dulu, waktu masih menjadi santri di salah satu pesantren, beberapa teman-teman menetap di asrama saat lebaran tiba. Ya karena kampung halamannya jauh, jadi terpaksa tak pulang. Bocah SMP pun harus dipaksa dengan keadaan demikian. Sedih. 

Para perantau yang terjebak kebijakan pasti selalu berharap agar ini cepat berlalu. Pandemi ini memaksa mereka membenci keadaan. Hal yang tak pernah diinginkan dan tak sama sekali diandaikan tapi sayangnya menjadi teman. Bertemankan sepi, tugas-tugas dosen maha raja harus dituntaskan di atas kasur kosan yang sudah terbayar lunas. Ditemani playlist lagu masa kini ketika stres melanda dengan maksud menenangkan hati. Atau mungkin sebagian lainnya, ditemani qori' andalannya dengan murottal quran yang dilantun merdu. Menyejukkan.

Pada akhirnya semua harus bersabar. Harus bekerja sama untuk menuntaskan dan melawan COVID-19. Imbauan di rumah saja mari sama-sama kita patuhi. Semua ada porsinya. Pemerintah membuat kebijakan, Para tenaga medis berjibaku di medan juang, dan kita yang memungkinkan untuk di rumah, ya jangan beranjak ke mana-mana. 

Semoga masa-masa kelam dapat kita lalui dengan cepat. Semua akan berbuah manis, segera. Indonesia tak akan lama murung dan kita akan segera tersenyum. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar