Minggu, 10 Mei 2020

COVID-19 dan Pejuang Kemanusiaan

Wuhan, China 2019. Pada akhir Desember menjadi heboh di seluruh awak media. Akhir tahun yang harusnya gembira malah menjadi boomerang untuk warga China. Virus mematikan ditemukan pertama kali di dunia menyerang populasi manusia saat ini, Corona Virus Deseas 19 atau COVID-19. Menurut WHO (World Health Organization), Coronavirus merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari demam, batu, pilek dan dapat lebih serius daripada virus MERS dan SARS. Sedangkan COVID-19, merupakan jenis baru coronavirus yang cukup mematikan (Sumber: https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public).

WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa virus ini akan menyerang pernafasan manusia dengan gejala-gejala yang ditimbulkan atau bahkan tanpa gejala. Pada dasarnya virus ini sejenis dengan Flu biasa, namun COVID-19 lebih rentan menyebar dan memiliki persentase kematian lebih tinggi, terlebih ketika ini menyerang para lansia yang memiliki penyakit bawaan seperti jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes. Belum ada formula yang tepat untuk penanganan COVID-19 dengan baik dan benar, yang artinya vaksin untuk virus ini belum ditemukan. Pemerintah Wuhan hanya mengandalkan imbauan agar warganya menjaga kestabilan imun dan berbagai kebijakan lainnya, Lockdown misalnya. Alhasil, sebulan selanjutnya benar-benar mereka selesaikan dengan baik. 

Indonesia sedang bersedih. Badai besar yang datang tanpa menyapa membuat rumah kita kalang kabut dibuatnya. Bombardir dari segala arah dan beruntungnya pondasi tetap berdiri tegak. 

Maret 2020, Indonesia digemparkan dengan berita pasien 01 positif COVID-19 di daerah Kemang, Jakarta. Fakta ini menikam bualan-bualan warga Indonesia yang sebelumnya menjadikan virus canda belaka. Mereka beranggapan bahwa Indonesia terlalu jauh untuk dihampiri virus ini. Sampai lupa, bahwa dunia ini tanpa sekat, virus sekecil ini harusnya tidak dianggap ringan, bahkan tak semestinya ditertawakan. Sampai saat ini waktu bergulir, kasus positif di Indonesia mencapai angka lebih dari 17 ribu dengan kurang lebih 4 ribu orang yang berhasil sembuh dan 1000 orang yang meninggal dunia (Sumber: https://covid19.go.id/). Angka-angka ini tentunya mengejutkan untuk Indonesia. Menimbulakn berbagai asumsi masyarakat yang mengatakan bahwa Indonesia tak siap dengan semua ini dan tak mampu menanganinya. Asumsi-asumsi negatif seperti ini tak semestinya dilontarkan di tengah keadaan yang benar-benar kacau.

Di tengah pandemi ini, tentunya pemerintah dan tim medis Indonesia tak akan tinggal diam. Berbagai eskperimen dilakukan untuk menemukan formula yang tepat untuk dijadikan vaksin COVID-19. Pembuatan alat tes PCR, alat tes diagnostik non-PCR, ventilator, serta laboratorium bergerak dengan bio safety level 2 sudah diusahakan dan akan diproduksi secara masal di Indonesia. Hingga pada akhirnya, para ilmuwan dan para peneliti di dunia melakukan uji coba terapi menggunakan plasma darah pasien yang telah sembuh dari COVID-19. Termasuk di Indonesia, dengan cepat tenaga medis melakukan uji coba plasma darah untuk diinjeksi ke dalam tubuh pasien positif COVID-19. Ratri Anindyajati, pasien 03 yang berhasil sembuh dan menjadi pendonor pertama plasma darah di Indonesia. Ia melakukan berbagai protokol tes kesehatan sebelum akhirnya mampu untuk melakukan donor tersebut. Prosedur yang diuji cobakan adalah dengan mengambil 300cc plasma darah dengan waktu kurang lebih 50 menit.

Uji coba Plasma darah telah dilakukan dengan skala besar di beberapa rumah sakit di Indonesia dengan beberapa target pasien yang telah ditentukan. Dan hasilnya, terapi plasma darah menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pasien positif ke arah yang lebih baik. Hasilnya akan terlihat pada pekan ke tiga terhitung saat awal dilakukan injek ke dalam tubuh pasien. Berita tersebut tentu diterima Presiden Jokowi. Beliau akan mendukung penuh usaha yang dilakukan semua tim medis di Indonesia, termasuk penerepan uji coba plasma darah.

Semakin merebaknya virus C0VID-19 di Indonesia, semakin masyarakat resah dengan keadaan. Pemerintah mengambil langkah tegas. Mendeklarasikan Lockdown sebagai solusi pendukung untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 di Indonesia, meniru gebrakan China yang berhasil menerapkannya. Namun, kasus positif semakin menjadi, semakin bertambah dari hari ke hari dan sudah berjalan selama 2 bulan lamanya. Ekonomi tak stabil, krisis menyerang. Para pekerja lepas harian harus kehilangan pekerjaannya dan terpaksa puasa dari gemerlapnya dunia. Hingga akhirnya di tengah pandemi ini Indonesia menyambut Ramadan di saat yang kacau seperti ini. 

Ramadan 2020 beriringan dengan segala kebijakan dan peraturan pemerintah. Tagar #dirumahaja harus tetap berlaku dan wajib diterapkan. Bahkan fatwa ulama harus dikeluarkan untuk menjamin ibadah umat beragama di Indonesia. Ibadah di masjid sementara diganti untuk dilakukan di rumah bersama keluarga tercinta. Namun sayangnya, masih ada beberapa tempat yang kurang pencerdasan terhadap hal serupa. Sehingga ibadah di masjid tetap dijalankan tanpa menjaga jarak dan tanpa sekat. Alhasil, pada pertengahan April 2020, 4 kasus positif ditemukan pada sebuah masjid di Jakarta dengan 300 orang terpaksa menjadi ODP. Miris sekali dan sangat disayangkan. 

Sebagai kelanjutan Lockdown, istilah Social Distancing juga menjadi kebijakan yang disuarakan pemerintah. Menimbulkan pro kontra di berbagai kalangan masyarakat. Tak masalah bagi mereka yang berkecukupan tapi tidak untuk mereka yang harus mengais rezeki dari bawah. Para pekerja dirumahkan, mengurus segala keperluannya dari rumah masing-masing sambil menjalankan ibadah di bulan Ramadan. 

Ramadan harusnya dijadikan sebagai loncatan untuk meraih nilai-nilai taqwa Yang Maha Kuasa. Ramadan tentunya harus menjadi momentum kebaikan untuk semua masyarakat. Tak terkecuali para pemuda millenial yang harus melek terhadap lingkungan sekitar. Masih banyak saudara-saudara yang harus bersusah payah bekerja dengan penghasilan tak menjanjikan apalagi terdampak akibat krisis COVID-19. Itulah mengapa, terobosan kegiatan untuk beramal dari rumah menjadi suatu hal yang digalakkan. Di rumah saja bukan berarti rebahan tak tahu arah. Tidur seharian tanpa arti tanpa kejelasan. 

Open donasi. Salah satu kegiatan yang menjadi campaign utama kami para pemuda saat ini. Niat bersih dari hati untuk bergerak di bidang kemanusiaan. Menerima segala bentuk donasi dari semua pihak tentunya akan mempermudah kegiatan ini hingga tercapai pundi-pundi koin dan lembaran uang kertas. Donasi yang masuk akan menjelma menjadi berbagai bentuk bantuan. Mulai dari sembako, masker, Handsanitizer dan lain sebagainya. Kebaikan dari rumah benar-benar nyata. Namun, kami sebagai para punggawa relawan harus turun ke lapangan untuk menyalurkan semua bentuk bantuan kepada target-target yang berhak menerimanya. Senyum kebahagian benar-benar terpancar dari wajah polos sang penerima bantuan. Menyejukkan.

Tak sampai di situ, cara lain yang menjadi andalan para punggawa kemanusiaan adalah menjadikan diri ini sebagai content creator. Artinya, membuat sebuah konten yang menjadi sebuah persembahan untuk semua insan yang tetap berjuang melawan COVID-19, tenaga medis misalnya. Figur-figur yang berkarya dari rumah membuat sebuah video dukungan agar setiap keringat yang menetes dan lelah yang tergadaikan dapat terbayarkan dengan keberhasilan yang nyata. Dengan harapan, semangat para pejuang di garda terdepan tak pernah padam sampai akhirnya Indonesia benar-benar kembali tersenyum.



Satu hal yang menjadi dorongan para pemuda untuk melakukan kebaikan adalah bahwa nilai kebaikan tak akan pernah mati, kapanpun itu. Gerakan kebermanfaatan akan benar-benar menyebarkan rasa kebahagiaan pada setiap jiwa yang menerimanya. Aksi kebaikan akan menjadi sinar yang terang di tengah situasi yang kelam saat ini. Semoga nantinya dapat kembali tangan yang menjabat dan raga yang mendekap tanpa sekat dan tanpa jarak, pasti.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar