Jumat, 22 Mei 2020

Pesan berantai Idul Fitri

Ketika tangan tak mampu menjabat,
kaki yang tak sanggup lagi melangkah,
hanya hati yang dapat berbisik.
Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal aidin walfaidzin
 mohon maaf lahir batin.

Selamat hari raya idul fitri ... 
-------------------------------

Imron dan Keluarga. 

-------------------------------------------------------------------
Ada yang sudah terima pesan berantai di atas? Kalau belum, tunggu ya, antri! Pesan berantai warisan budaya ini pasti meramaikan Whatsapp kita masing-masing ketika momen lebaran akan tiba. H-1 atau H-2 lebaran biasanya sudah mulai tersebar. Tak masalah, yang menerima pesan tinggal membalas, ditambah sedikit basa-basi dan beberapa emoticon agar terlihat lebih ekspresif. Hehe.

Ramadan akan pergi. 30 hari hampir berlalu. Lantas, layakkah kita menilai diri kita lebih baik dari sebelumnya? Hanya diri kita yang mampu menilai kualitas ibadah yang kita lakukan sebulan penuh selama ramadan. Ada yang menghabiskan dengan penuh khidmad bertadarus, khataman quran sekali, dua kali bahkan sepuluh kali, mungkin saja. Ada juga yang lebih memilih bersantai namun sholat wajib tetap dijalankan. Di belahan dunia lain mungkin ada yang menghabiskan beberapa bacaan buku, entah itu panduan sholat, tata cara wudhu, buku-buku islami lainnya atau bahkan novel-novel yang berisikan kata-kata puitis. Tipe manusia lain juga ada yang memilih untuk menyelesaikan video video kajian online dengan dipandu ustad-ustad besar yang sudah terkenal di negeri ini. Terserah saja, setiap insan berhak memilih untuk melakukan hal baik yang diyakini. 

Beruntungnya, yang saya lihat begitu banyak kebaikan yang dilakukan penduduk negeri di momen ramadan ini. Kepekaan terhadap sekitar seakan meningkat tajam, lebih bisa merasa tepatnya. Berbagi kebaikan, menebar senyuman. Berbagi nasi kotak, takjil untuk berbuka, dan bahkan sembako untuk stok sehari-hari rumah tangga. Alhamdulillah luar biasa. Semoga ramadan kali ini kita benar-benar berhasil menjadi hamba Allah yang bertaqwa seutuhnya, Aamiin.

Besok malam, gema takbir akan berkumandang seantero negeri. Menandakan kemenangan umat muslim di seluruh dunia. Akan terdengar seruan kebahagiaan untuk menyambut idul fitri. Lebaran memang momen yang paling ditunggu setelah sebulan penuh menjalankan puasa ramadan. Setelah berjuang di tengah gurun yang kering, terlihat ujung garis finish disambut dengan danau yang menyegarkan. Begitulah kiranya perjalanan umat muslim di dunia. Rumah-rumah akan kembali hidup, menyiapkan semua bentuk perayaan kemenangan. Ikut berbahagia dengan euforia yang ada. Membersihkan rumah, menyapu, mengepel, memotong rumput dan dedaunan di halaman rumah, bahkan mungkin saja ada yang mengecat ulang warna rumah. Haha.

Membeli makanan, membuat bolu, memasak lauk pauk daging dan lain-lain untuk disantap setelah sholat idul fitri. Nah salah satu euforia yang paling mengesankan adalah sholat idul fitri. Berbondong-bondong dari rumah menuju masjid bersama keluarga dan tentunya  para tentangga terdekat. Ada yang mengenakan baju baru, ada juga yang cukup menggunakan pakaian lama yang masih bagus dan layak pakai. Kata orang, baju baru alhamdulillah, tak punya pun tak masalah. Karena esensinya idul fitri adalah kembali suci, artinya hati yang baru pun sudah cukup.

                                       
              (Sumber: google.com)

Idul fitri tahun ini tampaknya akan berbeda. Di tengah kondisi pandemi yang belum juga selesai, pemerintah selalu mengawasi dan mengambil langkah tegas terhadap setiap kegiatan. Khususnya pelaksanaan sholat idul fitri, yang menjadi sorotan utama para penguasa. Sholat idul fitri tahun ini dianjurkan di rumah saja, dengan panduan dan tata cara yang sudah beredar di media sosial. Karena ditakutkan akan meningkatkan jumlah kasus covid jika harus berkumpul di keramaian. Tapi entahlah, mungkin sebagian masjid akan menerapkan dan mematuhi atau sebagian lagi tetap menjalankan seperti biasa sebelumnya. 

Sudah menjadi ciri khas lebaran jika harus saling silaturahim dari rumah ke rumah. Berjabat tangan dan berpelukan hingga mencicipi makanan yang dihidangkan di setiap rumah. Lagi-lagi, kebiasaan ini terancam dan tersekat imbauan pemerintah. Idul fitri mungkin akan sepi tanpa hal semacam ini. Jika dirasa aman-aman saja, sepertinya kebiasaan ini akan tetap berjalan, setidaknya dengan tertangga terdekat saja.

Pada akhirnya yang terpenting adalah bagaimana diri kita bersikap setelah perjalanan panjang yang kita tempuh. Diri ini selalu berharap agar apa yang diupayakan bisa benar-benar menjadi kebahagiaan dan kenyataan. Dengan datangnya idul fitri, semoga kita selalu sadar bahwa kemenangan pasti akan kita raih. Semoga di hari yang suci nanti, jiwa raga dan ruhiyah kita semakin membaik dan juga semakin suci terhapus dari dosa-dosa yang membelenggu, aamiin. Semoga tak hilang nikmatnya hari raya di tengah kondisi yang hampir membuat kita tak berdaya. Semoga tak luntur semangat kita untuk selalu berbuat baik setelah bekal yang kita dapat di bulan ramadan, aamiin.

Akhirnya, saya mengucapkan..

Taqabbalallahu minna wa minkum
Minal aidin walfaidzin 
Mohon maaf lahir batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H 

Selamat berbahagia, nikmatilah setiap detik senyum dan tawa di tengah hangatnya pelukan keluarga.
Selamat bersenang-senang.

Hakimrasyidi

Kamis, 21 Mei 2020

Untuk Kamoe

Waktu berlalu begitu cepat, aku menyadari nya, mungkin kamu pun begitu. sayup sayup angin malam menerpa tubuh ku dikala duduk seorang diri menatap bintang. Saat itu juga wajah mu hadir ditengah lamunan malam ku.

Dulu, cerita ini aku hindari.– Hanya anak “kemarin sore” yang mencoba masuk ke dunia baru. Mencoba merasakan kisah yang penuh drama. Kisah dengan berbagai rasa yang sulit ditafsirkan. Tapi, entah mengapa aku larut didalamnya dan gagal untuk menghindar.

Sekarang, aku bukan lagi duduk ditemani angin malam yang begitu syahdu. Hanya sinar mentari sore hari yang memancar hingga ke pori ku. Fase perputaran bumi, pergantian hari kita rasakan bersama. Namun, kamu berbeda. Kamu egois. Kamu merasakan semua perubahan namun tidak menyadari nya. Justru aku dipaksa untuk menyadari semua nya. Dipaksa untuk begitu peka terhadap semua tingkah yang kamu tunjukkan. Dulu kamu bertindak seperti kupu-kupu anggun yang sibuk mencari nektar nya. Tapi saat ini dirimu hanya seperti putri malu, merespon sinyal yang datang dengan cara menutup diri. Semua keadaan berbalik. Kini aku yang menjadi pemeran utama untuk mendapat kan semua sinyal yang dulu kau berikan. Keadaan sekarang membuat ku membuka mata terhadap apa yang pernah hadir.

Aku berjalan berdampingan dengan waktu. Memainkan peran yang ku dapat dari pelajaran masa lalu. Peran yang membuatku mencoba untuk mengembalikan semua nya. — Ku kira, seni peran yang ku mainkan bisa membuatmu berdecak kagum dan kembali menjadi kupu-kupu anggun. Namun aku salah. Seperti menyusun serpihan kaca yang terlanjur hancur, mustahil. — Peran yang ku mainkan tak mendapat respon sedikit pun. Bahkan sikap yang kau tunjukkan membuatku semakin sadar. Seperti memberi sinyal bahwa aku harus menyudahi peranku. Kau beruntung, aku berhasil menangkap sinyal itu, aku berhasil menafsirkan semua yang kau mau. Aku sudahi semuanya .

Terimakasih untuk semua pelajaran bahkan pengalaman yang telah diberikan. Tulisan ini hanya secercah kata sebagai sarana untuk menyampaikan resah yang tak terucap.
Dan untuk KAMU, semoga sukses. Aku berdoa semoga semua harap yang terucap dapat menjadi nyata. Sampai bertemu ketika mahkota kesuksesan sudah berhasil didapatkan.


Prabumulih, 19 Juli 2017

------------------------------------------------------------------------------------------

*Cuma tulisan lama guys, waktu cinta monyet-monyetan. Biar ada warnyanya lah tulisan blog ini haha. 

Kamis, 14 Mei 2020

2020, Covid, dan Mahasiswa.

Baru lima bulan berjalan, 2020 bahkan menyaingi pelangi, warna-warni. Januari hingga Mei sungguh berliku bagi seluruh penduduk dunia. Banyak kesedihan yang menyinggung emosional tiap insan. Banyak air mata yang terpaksa harus diusap, dengan tangan sendiri atau orang yang dikasihi. Yang semestinya dapat tertawa lebar menjadi bungkam bibir melengkung. Hati yang seharusnya tersenyum, terpaksa sadar dihadapkan kenyataan yang tidak baik-baik saja.

Indonesia tak dapat mengelak, berkah tuhan di awal tahun harus diterima lapang dada. Hujan yang datang menyapa memberi pelajaran pada ibu kota. Genangan air yang menyebar hampir sebagian Jakarta membuat kalut metropolitan. Kacau, terancam, dan terendam. Tiga kata yang menggambarkan wajah Indonesia saat itu. Wajar saya sebut Indonesia, karena Jakarta mewakili perasaan semua raga. 

Waktu berlalu, hari berganti, dan hidup harus dinikmati. Kekacauan Jakarta perlahan dibenahi hingga Januari pun berlalu. Februari hadir dengan rasa yang berbeda. Bagaimana tidak, hal yang tak disangka justru menggemparkan dunia. Virus mematikan yang ditemukan pada akhir tahun 2019 semakin memuncak eksistensinya. COVID-19 yang resmi ditemukan di Wuhan, China berganti status semakin meresahkan. Bukan lagi wabah tapi pandemi, yang berarti ini adalah darurat Internasional. COVID-19 telah menikam ribuan nyawa manusia. Virus yang tak bisa dianggap sepele dan tak mungkin diabaikan. 

Maret 2020, Indonesia resmi masuk dalam daftar negara yang terkonfirmasi COVID-19. Pasien positif pertama ditemukan di Jakarta dan langsung mendapat penangan serius. Tameng yang dibangun sedari awal berhasil ditembus oleh virus yang tak terlihat. Tenaga medis cepat tanggap, pemerintah pun terlihat sigap. Satu orang confirmed, dua orang bertambah, hinggah akhirnya, sampai saat ini, virus ini telah bersarang pada 14 ribu lebih manusia di Indonesia. Kondisi Indonesia kembali kelam, tak sedikit tenaga medis gugur saat tugas. Persediaan APD yang tak mencukupi membuat Indonesia memutar otak, mau tidak mau APD harus dipenuhi. 

Pemerintah secara gamblang dan  tegas memutuskan Lockdown. Social distancing harus diterapkan. Sebagai langkah pendukung kebijakan, aktifitas harus dari rumah. Termasuk mahasiswa, karyawan perusahaan dan pekerjaan semacamnya. Work From Home, istilahnya. Banyak sekali komentar-komentar mengenai ini. Apalagi mahasiswa, yang mengeluh tentang bagaimana adaptasi dengan sistem kuliah online atau Daring. Yang bersuara memberontak karena tugas yang dibebankan tak lagi dapat diterima akal sehat. Kuliah online bukannya menerima asupan materi malah beban moril yang didapat, stres katanya. 

Tulisan ini saya buat sebagai rekanan mahasiswa. Jadi, akan sedikit banyak membahas lika-liku perjalanan teman-teman yang bersuara merasakan dampak dari pandemi COVID-19. Mahasiswa perantau yang mengeluh kesulitan mencari bahan makanan karena warung-warung sudah mulai tutup dan persediaan toko pun mulai habis. Tak hanya itu, masalah kompleks lainnya yang sering dikeluhkan adalah tentang kuota internet dan sinyal yang tak memadai. Sehingga sangat sulit saat melakukan pembelajaran online. Namun beruntungnya, beberapa kampus sudah mendukung fasilitas mahasiswa dengan menyediakan kuota gratis setiap bulannya. Nah ini adalah secercah cahaya di tengah kegelepan. Syukur syukur..

PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar sungguh tak menyenangkan bagi perantau. Mereka yang tak sempat pulang sebelum diputuskannya kebijakan ini harus bersedih menahan diri. PSBB artinya tak boleh keluar dari tempat itu dan tak boleh masuk ke daerah itu. Tak sedikit kawan-kawan mahasiswa yang terpaksa berdiam diri di rumah kos nya tercinta terpisah dari orang tua dan dari keluarga. Karena kalau pulang, dikhawatirkan membawa virus yang berbahaya. Semakin dekat dengan Idul Fitri, semakin diri merundung sedih. Apalagi untuk teman-teman yang baru pertama kali merasakan jauh dari orang tua. Berat sekali rasanya. Ramadan sendirian, buka sahur ditemani alarm. Bahkan terancam lebaran menyapa keluarga melalui Video Call, virtual. Lagi-lagi online. 

Teringat dulu, waktu masih menjadi santri di salah satu pesantren, beberapa teman-teman menetap di asrama saat lebaran tiba. Ya karena kampung halamannya jauh, jadi terpaksa tak pulang. Bocah SMP pun harus dipaksa dengan keadaan demikian. Sedih. 

Para perantau yang terjebak kebijakan pasti selalu berharap agar ini cepat berlalu. Pandemi ini memaksa mereka membenci keadaan. Hal yang tak pernah diinginkan dan tak sama sekali diandaikan tapi sayangnya menjadi teman. Bertemankan sepi, tugas-tugas dosen maha raja harus dituntaskan di atas kasur kosan yang sudah terbayar lunas. Ditemani playlist lagu masa kini ketika stres melanda dengan maksud menenangkan hati. Atau mungkin sebagian lainnya, ditemani qori' andalannya dengan murottal quran yang dilantun merdu. Menyejukkan.

Pada akhirnya semua harus bersabar. Harus bekerja sama untuk menuntaskan dan melawan COVID-19. Imbauan di rumah saja mari sama-sama kita patuhi. Semua ada porsinya. Pemerintah membuat kebijakan, Para tenaga medis berjibaku di medan juang, dan kita yang memungkinkan untuk di rumah, ya jangan beranjak ke mana-mana. 

Semoga masa-masa kelam dapat kita lalui dengan cepat. Semua akan berbuah manis, segera. Indonesia tak akan lama murung dan kita akan segera tersenyum. 



Minggu, 10 Mei 2020

COVID-19 dan Pejuang Kemanusiaan

Wuhan, China 2019. Pada akhir Desember menjadi heboh di seluruh awak media. Akhir tahun yang harusnya gembira malah menjadi boomerang untuk warga China. Virus mematikan ditemukan pertama kali di dunia menyerang populasi manusia saat ini, Corona Virus Deseas 19 atau COVID-19. Menurut WHO (World Health Organization), Coronavirus merupakan suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari demam, batu, pilek dan dapat lebih serius daripada virus MERS dan SARS. Sedangkan COVID-19, merupakan jenis baru coronavirus yang cukup mematikan (Sumber: https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public).

WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa virus ini akan menyerang pernafasan manusia dengan gejala-gejala yang ditimbulkan atau bahkan tanpa gejala. Pada dasarnya virus ini sejenis dengan Flu biasa, namun COVID-19 lebih rentan menyebar dan memiliki persentase kematian lebih tinggi, terlebih ketika ini menyerang para lansia yang memiliki penyakit bawaan seperti jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes. Belum ada formula yang tepat untuk penanganan COVID-19 dengan baik dan benar, yang artinya vaksin untuk virus ini belum ditemukan. Pemerintah Wuhan hanya mengandalkan imbauan agar warganya menjaga kestabilan imun dan berbagai kebijakan lainnya, Lockdown misalnya. Alhasil, sebulan selanjutnya benar-benar mereka selesaikan dengan baik. 

Indonesia sedang bersedih. Badai besar yang datang tanpa menyapa membuat rumah kita kalang kabut dibuatnya. Bombardir dari segala arah dan beruntungnya pondasi tetap berdiri tegak. 

Maret 2020, Indonesia digemparkan dengan berita pasien 01 positif COVID-19 di daerah Kemang, Jakarta. Fakta ini menikam bualan-bualan warga Indonesia yang sebelumnya menjadikan virus canda belaka. Mereka beranggapan bahwa Indonesia terlalu jauh untuk dihampiri virus ini. Sampai lupa, bahwa dunia ini tanpa sekat, virus sekecil ini harusnya tidak dianggap ringan, bahkan tak semestinya ditertawakan. Sampai saat ini waktu bergulir, kasus positif di Indonesia mencapai angka lebih dari 17 ribu dengan kurang lebih 4 ribu orang yang berhasil sembuh dan 1000 orang yang meninggal dunia (Sumber: https://covid19.go.id/). Angka-angka ini tentunya mengejutkan untuk Indonesia. Menimbulakn berbagai asumsi masyarakat yang mengatakan bahwa Indonesia tak siap dengan semua ini dan tak mampu menanganinya. Asumsi-asumsi negatif seperti ini tak semestinya dilontarkan di tengah keadaan yang benar-benar kacau.

Di tengah pandemi ini, tentunya pemerintah dan tim medis Indonesia tak akan tinggal diam. Berbagai eskperimen dilakukan untuk menemukan formula yang tepat untuk dijadikan vaksin COVID-19. Pembuatan alat tes PCR, alat tes diagnostik non-PCR, ventilator, serta laboratorium bergerak dengan bio safety level 2 sudah diusahakan dan akan diproduksi secara masal di Indonesia. Hingga pada akhirnya, para ilmuwan dan para peneliti di dunia melakukan uji coba terapi menggunakan plasma darah pasien yang telah sembuh dari COVID-19. Termasuk di Indonesia, dengan cepat tenaga medis melakukan uji coba plasma darah untuk diinjeksi ke dalam tubuh pasien positif COVID-19. Ratri Anindyajati, pasien 03 yang berhasil sembuh dan menjadi pendonor pertama plasma darah di Indonesia. Ia melakukan berbagai protokol tes kesehatan sebelum akhirnya mampu untuk melakukan donor tersebut. Prosedur yang diuji cobakan adalah dengan mengambil 300cc plasma darah dengan waktu kurang lebih 50 menit.

Uji coba Plasma darah telah dilakukan dengan skala besar di beberapa rumah sakit di Indonesia dengan beberapa target pasien yang telah ditentukan. Dan hasilnya, terapi plasma darah menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pasien positif ke arah yang lebih baik. Hasilnya akan terlihat pada pekan ke tiga terhitung saat awal dilakukan injek ke dalam tubuh pasien. Berita tersebut tentu diterima Presiden Jokowi. Beliau akan mendukung penuh usaha yang dilakukan semua tim medis di Indonesia, termasuk penerepan uji coba plasma darah.

Semakin merebaknya virus C0VID-19 di Indonesia, semakin masyarakat resah dengan keadaan. Pemerintah mengambil langkah tegas. Mendeklarasikan Lockdown sebagai solusi pendukung untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 di Indonesia, meniru gebrakan China yang berhasil menerapkannya. Namun, kasus positif semakin menjadi, semakin bertambah dari hari ke hari dan sudah berjalan selama 2 bulan lamanya. Ekonomi tak stabil, krisis menyerang. Para pekerja lepas harian harus kehilangan pekerjaannya dan terpaksa puasa dari gemerlapnya dunia. Hingga akhirnya di tengah pandemi ini Indonesia menyambut Ramadan di saat yang kacau seperti ini. 

Ramadan 2020 beriringan dengan segala kebijakan dan peraturan pemerintah. Tagar #dirumahaja harus tetap berlaku dan wajib diterapkan. Bahkan fatwa ulama harus dikeluarkan untuk menjamin ibadah umat beragama di Indonesia. Ibadah di masjid sementara diganti untuk dilakukan di rumah bersama keluarga tercinta. Namun sayangnya, masih ada beberapa tempat yang kurang pencerdasan terhadap hal serupa. Sehingga ibadah di masjid tetap dijalankan tanpa menjaga jarak dan tanpa sekat. Alhasil, pada pertengahan April 2020, 4 kasus positif ditemukan pada sebuah masjid di Jakarta dengan 300 orang terpaksa menjadi ODP. Miris sekali dan sangat disayangkan. 

Sebagai kelanjutan Lockdown, istilah Social Distancing juga menjadi kebijakan yang disuarakan pemerintah. Menimbulkan pro kontra di berbagai kalangan masyarakat. Tak masalah bagi mereka yang berkecukupan tapi tidak untuk mereka yang harus mengais rezeki dari bawah. Para pekerja dirumahkan, mengurus segala keperluannya dari rumah masing-masing sambil menjalankan ibadah di bulan Ramadan. 

Ramadan harusnya dijadikan sebagai loncatan untuk meraih nilai-nilai taqwa Yang Maha Kuasa. Ramadan tentunya harus menjadi momentum kebaikan untuk semua masyarakat. Tak terkecuali para pemuda millenial yang harus melek terhadap lingkungan sekitar. Masih banyak saudara-saudara yang harus bersusah payah bekerja dengan penghasilan tak menjanjikan apalagi terdampak akibat krisis COVID-19. Itulah mengapa, terobosan kegiatan untuk beramal dari rumah menjadi suatu hal yang digalakkan. Di rumah saja bukan berarti rebahan tak tahu arah. Tidur seharian tanpa arti tanpa kejelasan. 

Open donasi. Salah satu kegiatan yang menjadi campaign utama kami para pemuda saat ini. Niat bersih dari hati untuk bergerak di bidang kemanusiaan. Menerima segala bentuk donasi dari semua pihak tentunya akan mempermudah kegiatan ini hingga tercapai pundi-pundi koin dan lembaran uang kertas. Donasi yang masuk akan menjelma menjadi berbagai bentuk bantuan. Mulai dari sembako, masker, Handsanitizer dan lain sebagainya. Kebaikan dari rumah benar-benar nyata. Namun, kami sebagai para punggawa relawan harus turun ke lapangan untuk menyalurkan semua bentuk bantuan kepada target-target yang berhak menerimanya. Senyum kebahagian benar-benar terpancar dari wajah polos sang penerima bantuan. Menyejukkan.

Tak sampai di situ, cara lain yang menjadi andalan para punggawa kemanusiaan adalah menjadikan diri ini sebagai content creator. Artinya, membuat sebuah konten yang menjadi sebuah persembahan untuk semua insan yang tetap berjuang melawan COVID-19, tenaga medis misalnya. Figur-figur yang berkarya dari rumah membuat sebuah video dukungan agar setiap keringat yang menetes dan lelah yang tergadaikan dapat terbayarkan dengan keberhasilan yang nyata. Dengan harapan, semangat para pejuang di garda terdepan tak pernah padam sampai akhirnya Indonesia benar-benar kembali tersenyum.



Satu hal yang menjadi dorongan para pemuda untuk melakukan kebaikan adalah bahwa nilai kebaikan tak akan pernah mati, kapanpun itu. Gerakan kebermanfaatan akan benar-benar menyebarkan rasa kebahagiaan pada setiap jiwa yang menerimanya. Aksi kebaikan akan menjadi sinar yang terang di tengah situasi yang kelam saat ini. Semoga nantinya dapat kembali tangan yang menjabat dan raga yang mendekap tanpa sekat dan tanpa jarak, pasti.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.

RAMADHAN 2020

RAMADHAN 2020

Aku, Kamu, dan Kita semua sama. Sama-sama mengiyakan kalau ramadhan tahun ini berbeda. Klise sekali, tapi inilah kenyataannya. Banyak insan yang mengaku bersedih bahwa ramdhan tahun ini tak se-ekspresif tahun-tahun sebelumnya. Katanya, mereka terbelenggu diam di rumah saja, padahal inilah momentum untuk lebih dekat dengan pencipta. Keadaan yang memaksa untuk tak beranjak dan mengharuskan berjarak. 

Dulu, sesaat ketika akan menyambut ramadhan datang, ramai sekali remaja-remaja berbondong menuju masjid dengan kopiah setengah menutup rambut, masih memakai celana pendek dan memutarkan sarungnya seperti para koboi berkuda, Haha. Antusias yang menggebu, berlari dari rumah masing-masing menuju titik kumpul keberangkatan menuju masjid. Namun sayangnya, belum bisa ku temukan di ramadhan 2020. Banyak pemuda yang tersekat dengan imbauan pemerintah dan alim ulama untuk beribadah di rumah saja, mereka menaati. Sami'na wa atho'na. Kami dengar dan kami patuh, kata mereka. Baguslah, setidaknya mereka sadar bahwa kebaikan umat lebih utama daripada euforia belaka.  

Banyak harapan yang tak pernah putus diiringi tindakan yang serius. Banyak pula yang menghibur diri, katanya tenang saja, badai pasti berlalu. Pilu akan menghilang dan rindu akan kembali bertemu. Tiga bulan sudah pandemi mengekang, menjadikan ekonomi tak seimbang. Para pedangang tak beranjak dari tempat, terpaksa katanya. Kalau tidak, keluarga di rumah tak akan menyuap sesendok nasi dan air putih. Itulah karenanya, yang sama hanya suasana teriakan para pedagang sore hari di ramadhan tahun ini. 

Sepanjang jalan dipadati para penjual, namun pembeli tak kalah jumlahnya. Berdesakan. Klakson kendaraan saling bersahutan, knalpot saling menghambur suara. Jreng jreng, knalpot melengking tak lebih bagus dari pada suara toa murah di pasaran. Mengganggu sekali. 

Es buah, gorengan, pempek dan serba-serbi makanan yang menjadi warna tersendiri di bulan ramadhan. Makanan-makanan itu masih setia menghiasi ramainya ramdhan. Masih menjadi lawan ketika menahan dahaga ditengah teriknya matahari. Menarik sekali!

Namun sejatinya ramadhan tak sekedar menahan lapar dan berburu takjil. Lebih dari itu. Ramadhan adalah momen untuk beribadah lebih giat dari pada biasanya. Tadarus alquran, solat 5 waktu dan memperkuat sunnah yang sebelumnya masih jarang dilakukan. Semoga di tengah situasi sulit seperti ini, nilai-nilai taqwa tak luntur pada setiap insan di muka bumi ini. 

Semangat dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1441 H ya, semuanya!
semoga berkah..